Kamis, 14 Oktober 2010

TEORI KREATIFITAS

Teori Kreativitas :
Afifa (2007) mengemukakan bahwa Akses terhadap bidang (Acces to a field) dapat dilakukan dengan cara memberikan pengakuan terhadap kreativitas seseorang yang sedang berkarya di bidangnya, membina hubungan baik dengan para pakar dan orang yang relevan di bidangnya, membantu individu yang menunjukkan minat dan bakat kreatifnya di bidang seni, membina hubungan dengan lembaga-lembaga terkait melalui program-programnya.
Teori yang melandasi pengembangan kreativitas dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (Basuki, 2010) :
v Teori Psikoanalisis
Pribadi yang kretif dipandang sebagai seorang yang pernah mengalami traumatis, yang dapat memunculkan gagasan‐gagasan yang disadari dan tidak disadari, serta bercampur menjadi satu antara pemecahan inovatif dan trauma.
Teori ini terdiri dari:
§ Teori Freud
Freud menjelaskan proses kretif dari mekanisme pertahanan (defence mechanism). Freud percaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama kreativitas karena kebutuhan seksual tidak dapat dipenuhi, maka terjadi sublimasi dan merupakan awal imajinasi.
Macam mekanisme pertahanan:
o Represi ‐ Regresi
o Konpensasi ‐ Proyeksi
o Sublimasi ‐ Pembentukan reaksi
o Rasionalisasi ‐ Pemindahan
o Identifikasi ‐ Kompartementalisasi
o Introjeksi
§ Teori Ernst Kris
Ernst Kris (dalam Basuki, 2010) menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi muncul seiring memunculkan tindakan kreatif. Orang yang kreatif menurut teori ini adalah mereka yang paling mampu memanggil pikiran tidak sadar. Seorang yang kreatif tidak mengalami hambatan dalam pemikirannya. Mereka dapat menghadapi masala‐masalah serius yang dihadapi dalam kehidupannya dengan cara yang segar dan inovatif, melakukan regresi demi bertahannya ego (Regression in The Survive of The Ego).
§ Teori Carl Jung
Carl Jung (dalam Basuki, 2010) percaya bahwa alam ketidaksadaran (ketidaksadaran kolektif) memainkan peranan yang amat penting dalam pemunculan kreativitas tingkat tinggi. Dari ketidaksadaran kolektif ini timbil penemuan, teori, seni dan karya‐karya baru lainnya.
v Teori Humanistik
Teori Humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis pada tingkat tinggi.
Teori Humanistik meliputi:
§ Teori Maslow
Abraham Maslow (dalam Basuki, 2010) berpendapat bahwa manusia mempunyai naluri‐naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan yaitu kebutuhan fisik atau biologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta, kebutuhan akan penghagaan dan harga diri, kebutuhan aktualisasi atau perwujudan diri, Kebutuhan estetik. Kebutuhan‐kebutuhan tersebut mempunyai urutan hierarki. Keempat Kebutuhan pertama disebut kebutuhan “deficiency”. Kedua Kebutuhan berikutnya (aktualisasi diri dan estetik atau transendentasi) disebut kebutuhan “being”. Proses perwujudan diri berkait erat dengan kreativitas. Bila bebas dari neurosis, orang yang mewujudkan dirinya mampu memusatkan dirinya pada yang hakiki.
§ Teori Rogers
Carl Rogers (dalam Basuki, 2010) tiga kondisi internal dari pribadi yang kreatif yakni keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation), kemampuan untuk bereksperimen. Ketiga ciri atau kondisi tersebut merupakan dorongan dari dalam (internal press) untuk berkreasi.
v Teori Cziksentmihalyi
Ciri tumbuhnya kreativitas pada individu yakni Predisposisi genetis (genetic predisposition), mempunyai minat pada usia dini pada ranah tertentu sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas; mempunyai akses terhadap suatu bidang dengan Adanya sarana dan prasarana serta adanya Pembina atau mentor dalam bidang yang diminati sangat membantu pengembangan bakat; Access to a field (Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat, tokoh‐tokoh penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar‐pakar dalam bidang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan, penghargaan dari orang‐orang penting).
v Teori pendorong
Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan (www.labschool-unj.sch.id/smpjkt/materi_download. php?id=7). Kreativitas dapat terwujud dengan adanya dorongan dari diri individu (intrinsic) dan lingkungan (ekstrinsik).
Munandar (2002) menyatakan, pada pribadi yang kreatif, jika memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang menunjang seperti lingkungan yang memberikan kesempatan kepada individu untuk menyibukkan diri secara kreatif, maka akan dapat diprediksikan bahwa produk kreatifitasnya akan muncul.
Cropley (dalam Munandar, 2002) meneliti tentang hubungan antara tahap proses kreatif Wallas dan produk yang akan dicapai, dari penelitian tersebut didapatkan hasil perilaku kreatif memerlukan kombinasi antara ciri-ciri psikologi yang berinteraksi.
o Internal
Menurut Rogers (dalam Munandar, 2002) faktor internal yang dapat membuat individu kreatif adalah adanya keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation), kemampuan untuk bereksperimen. Ketiga ciri atau kondisi tersebut merupakan dorongan dari dalam (internal press) untuk berkreasi.
o Eksternal
Rogers (dalam Munandar, 2002) mengatakan bahwa psikoterapi dapat menciptakan kondisi dimana individu merasa aman dan bebas psikologinya, hal ini memungkinkan timbulnya kreativitas yang konstruktif.
§ Keamanan psikologis
Dapat dibentuk dengan cara :
· Menerima individu apa adanya,
· Memberikan kepercayaan untuk berkreasi dan berkembang,
· Mendorong pengembangan kreativitas,
· Mengadakan dan mengusahakan evaluasi yang tidak mengancam dan tersembunyi,
· Memberikan pengertian dan berempati.
§ Kebebasan psikologis
Dapat dilakukan dengan cara mengizinkan, memberikan kesempatan untuk dapat dengan bebas dalam mengekspresikan secara simbolis pikiran, perasaan.
v Teori Proses Kreatif
o Teori Wallas
Salah satu teori tradisional yang sampai sekarang banyak dikutip ialah teori Wallas yang dikemukakan dalam buku The art of Thought (Piirto dalam www.labschool-unj.sch.id/smpjkt/materi_download.php?id=7), yang mengatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap yaitu: (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, (4) verifikasi.
Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang, dan sebagainya. Pada tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun data atau informasi tidak dilanjutkan oleh individu. Tahap inkubasi ialah tahap di mana individu seakan-akan melepaskan diri sementara dari masalah tersebut, tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi menaruhnya ke alam pra sadar. Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya “insight” dimana timbul inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru. Tahap verifikasi atau tahap evaluasi ialah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas memerlukan pemikiran yang kritis dan konvergen.
o Teori Belahan otak kanan dan kiri
Proses pemikiran untuk menyelesaikan masalah secara efektif melibatkan otak kiri atau otak kanan dengan mengombinasikan pemikiran logis dan kreatif dimana otak kiri memainkan peranan dalam pemrosesan logika, kata-kata, matematika, sedangkan otak kanan berurusan dengan irama, rima, musik, gambar, dan imajinasi (www.labschool-unj.sch.id/smpjkt/materi_download.php?id=7).
Bagan Proses Pimikiran Otak
Otak Kiri
Otak Kanan
  • Vertikal
  • Kritis
  • Strategis
  • Analistis
  • Lateral
  • Hasil
  • Kreatif
Keterangan:
v Berpikir Vertikal
o Adalah Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan.
v Berpikir Lateral
o Adalah melihat permasalahan dari beberapa sudut atau aspek.
v Berpikir Kritis
o Adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat.
v Berpikir Analitis
o Adalah proses memecahkan masalah atau gagasan dengan mengujinya, melihat kecocokan gagasan, dan mengeksplorasi gagasan, serta mengombinasikan dengan cara-cara yang baru.
v Berpikir Strategis
o Adalah mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek dari beberapa aspek.
v Berpikir tentang Hasil
o Adalah meninjau tugas dari perspektif solusi yang dikehendaki.
v Berpikir Kreatif
o Adalah memecahkan masalah dengan menggunakan kombinasi dari semua proses.
v Teori Produk Kreatif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar