Kamis, 14 Oktober 2010

PROSES KREATIF SENI

SENI, PROSES KREATIF, DAN SIKAP SENIMAN    


SENI dalam segala perwujudannya merupakan (salah satu) ekspresi proses kebudayaan manusia, sekaligus pencerminan dari peradaban suatu masyarakat atau bangsa pada suatu kurun waktu tertentu. Di lain pihak, kebudayaan tidak hanya berciri fungsional untuk melangsungkan hidup, tapi sekaligus juga proses pemerdekaan diri: membuat orang jadi lebih manusiawi.
Oleh karena itu, memperluas wawasan tentang (ke)seni(an) merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Selain untuk mendekatkan diri dengan masalah-masalah seputar seni, juga untuk menghilangkan pandangan dan pretensi negatif yang menganggap seni dan seniman sebagai sesuatu yang kurang manfaat, urakan, kumuh, rombeng, pengangguran, dan hidup seenaknya. Karena seni, bagaimanapun, merupakan bagian langsung dari kehidupan manusia yang sama penting dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Sesuatu yang positif dan bermanfaat, bukannya sesuatu yang negatif dan merugikan.

REALITAS SENI
Memberi batasan tentang pengertian seni secara baku dan pasti memang merupakan hal yang sangat sulit, seperti halnya kita mencoba memberi pengertian tentang cinta. Ini karena seni, sebagai bagian dari kebudayaan manusia, berjalin berkelindan dengan seluruh segi kehidupan manusia yang sangat luas, rumit, dan kompleks. Seni sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan yang bekerja secara pasti untuk mendapatkan hasil yang obyektif dan dapat diukur. Karena seni tidak hanya berupa hasil akal fikiran, tetapi menyentuh dan melibatkan perasaan (hati) yang subyektif.
Hans Küng dalam bukunya Art and the Question of Meaning (1981) mengungkapkan kesulitan yang harus dihadapinya, yaitu bahwa tidak ada lagi definisi mengenai seni yang diakui secara umum kecuali definisi mengenai agama dan filsafat. Menurut Küng, pada abad XX (tentu saja hingga abad XXI ini -pen) secara khusus ditandai oleh bermacam-macam percobaan terus-menerus untuk menemukan definisi baru mengenai seni dan meninggalkan ide-ide sebelumnya. Karena itulah, Küng menyarankan pembicaraan mengenai seni tidak dimulai dengan definisi tentang seni melainkan dengan realitas seni, dengan pengetahuan bahwa seni itu ada, apa pun bentuk dan batasannya.
Pendapat lebih ekstrim dikemukakan oleh Joseph Beuys (bukan Yoseph Iskandar ketua Dewan Kesenian Banten. Heheh! Halo, apa kabar?), seorang profesor di Dusseldorf Art Academy Jerman- sebagaimana dikutip dalam newsletter Bandung Art Forum edisi Nomor 2, Juni-Juli 2001- bahwa setiap orang adalah seniman. Joseph Beuys pun kemudian mencairkan praktek seni dengan praktek hidup sehari-hari. Sehingga seringkali aktifitas keseniannya sukar dijelaskan sebagai sebuah karya seni. Tetapi Joseph Beuys tidak perduli, bahkan ia terus menganjurkan sebuah konsep kesenian yang universal, yang memiliki dimensi luas antar disiplin keilmuan.
“Setiap orang adalah seniman, saya maksudkan bahwa siapa pun bisa memutuskan kepuasan hidupnya dalam bidang khusus, apakah dalam lukisan, musik, mesin-mesin, mengobati orang sakit, ekonomi, atau apa pun itu!” seru Beuys. Hal tersebut karena menurut Beuys lembaga budaya menghadapi dilema dalam mengatasi kenyataan bahwa kebudayaan merupakan sebuah lapangan yang terkucil, dan kesenian lebih terkucil lagi. Yakni sebuah tempat yang sangat terasing dari sebuah lapangan kebudayaan yang dikepung oleh kompleksitas budaya dan pendidikan, juga oleh media yang justru merupakan bagian dari kebudayaan tersebut.
Sikap serupa itu barangkali lahir dari tanggapan sang seniman terhadap predikat seniman yang tidak istimewa lagi di tengah-tengah perkembangan dan perubahan struktur masyarakatnya. Tidak seperti pada jaman raja-raja di masa lampau di mana terdapat tradisi menghimpun seniman di istana. Saat itu seniman dipandang sebagai kelompok orang budiman yang mulia di sisi raja, sehingga memperoleh berbagai gelar yang disandangkan kepadanya. Seorang penyair misalnya, diberikan gelar kawiwara (penyair terkemuka), kawindra/kawiraja (raja penyair), atau kawi wiku (penyair religius), dan sebagainya. Sementara sekarang ini, predikat seniman hanyalah salah satu aspek saja dalam kehidupan individual di tengah-tengah masyarakatnya. Sehingga tujuan proses penciptaannya tidak selamanya selaras dengan sikap masyarakat umumnya, apalagi dengan “raja-raja masa kini” alias pemerintah.

PROSES KREATIF
Proses penciptaan disebut juga proses kreatif, yaitu rangkaian kegiatan seorang seniman dalam menciptakan dan melahirkan karya-karya seninya sebagai ungkapan gagasan dan keinginannya. Proses penciptaan ini tidak terjadi dan diturunkan dari ruang kosong. Tapi pada hakikatnya hanyalah usaha memodifikasi (mengubah/menyesuaikan) sesuatu yang telah ada sebelumnya. Misalnya, seorang pelukis membuat sebuah lukisan karena sebelumnya telah ada pelukis lain dan karya lukisan lainnya. Di situlah seniman berupaya dengan keras menampilkan sesuatu yang lain dari apa yang sudah ada, sehingga melahirkan suatu realitas baru yang kemudian diakui sebagai hasil ciptaannya.
Kemampuan “mencipta” (sesungguhnya hanya milik Tuhan!) inilah yang menjadikan manusia sebagai mahluk yang berkebudayaan. Yaitu yang memiliki kesadaran untuk mengembangkan kebiasaan hidup, saling berhubungan satu sama lain, dan mampu menyimpan pengalaman atau pengetahuannya sehingga dapat diketahui dan dialami oleh generasi-generasi berikutnya. Termasuk juga pengalaman estetiknya yang dijelmakan dalam (ke)seni(an).
Kemampuan kreatif atau mencipta tersebut sesungguhnya bukanlah sesuatu yang istimewa. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki tiga kemampuan utama, yaitu kemampuan fisik, kemampuan rasio atau akal, dan kemampuan kreatif. Hanya perimbangannnya saja yang berbeda-beda antara orang per orang.
Tiga kemampuan utama tersebut membentuk kemampuan-kemampuan lainnya yaitu kemampuan gerak, perasaan, dan imajinasi, di mana satu sama lain saling menjelmakan suatu kebulatan yang utuh. Integrasi atau penyatuan yang serasi dari seluruh kemampuan tersebut berpuncak atau menghasilkan apa yang dinamakan intuisi (penghayatan sedalam-dalamnya). Jika salah satu kemampuan diabaikan tentu saja akan menurunkan mutu intuisi seseorang. Padahal intuisi juga sekaligus menjadi dasar bagi pembangkitan energi kreatif yang menghindarkan manusia terjerembab menjadi robot atau zombie (mayat hidup).
Perkara intuisi inilah yang kerapkali begitu besar dimiliki seorang seniman. Seorang seniman karena kepekaan intuitifnya seringkali berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai arti hidup dan realitas kehidupan secara keseluruhan dengan antitesis yang radikal. Sehingga sebagai mahluk historis, seniman senantiasa terus-menerus memulai dan memulai lagi penciptaan. Ia tidak akan memuja-muja masa lampau, tradisi tidak akan menjadi Allah-nya. Ia juga tidak akan memuja-muja masa depan, futurisisme tidak akan menjadi Allah-nya. Bahkan ia pun tidak akan memuja-muja masa sekarang, kejadian masa kini tidak akan menjadi Allah-nya.
Dengan kata lain, seniman senantiasa melakukan pembaharuan terus-menerus, tak kunjung henti. Bahkan di tengah-tengah hidup dan kehidupan yang ditelikung nihilisme atau ketanpaartian yang melemparkan manusia ke dalam jurang-jurang pengasingan dan kesia-siaan. Seniman adalah Sisyphus yang terus mendorong batu ke atas bukit walau tahu sesampainya di puncak bakal jatuh terguling. Atau dalam kata-kata Theodor W. Adorno sebagaimana dikutip Herman Tjahja dalam majalah kebudayaan Basis edisi September 1986, “Dalam masa ketanpaartian, karya seni dapat melambangkan ‘ketanpaartian’ dengan sangat tepat secara estetis. Maka, karya seni merupakan ekspresi penuh arti dalam dirinya sendiri tentang ketanpaartian yang ada secara nyata.”

SIKAP KRITIS
Jelaslah kini, seniman bicara dengan (ke)seni(an)nya. Ia senantiasa tergoda untuk berkarya dan berkarya. Bukannya tergoda oleh tepuk-tangan massa atau oleh daya tarik kekuasaan. Ia bergulat mengolah dan bermain-main dengan gagasan. Bahkan tidak pernah merasa puas dan terus mempersoalkan karyanya sendiri. Ia juga berlaku kritis terhadap dirinya sendiri, sehingga tidak menganggap penting dirinya karena yang ia pertaruhkan adalah karyanya. Musuh besarnya bukanlah orang lain, tapi sikap mediocrity (kecukupanan) dan sikap utilitarian (kegunaan) yang mengepung dirinya maupun masyarakatnya.
Sikap kritis terhadap dirinya sendiri dan karya (ke)seni(an)nya itulah yang akan mampu terus menyalakan energi kreatifnya dalam proses penciptaan. Sehingga karya-karyanya menjelma menjadi “peristiwa” yang menimbulkan kelepak riak sekecil apa pun, yang menggugat ketenangan hidup yang mapan semu, yang mengganggu dan menggugah tidurnya kesadaran orang untuk berpikir secara baru dan lain.
Dengan imajinasi seniman, kekuatannya yang kreatif, keberanian dan integritasnya, melalui kode, tanda dan simbol, warna dan bentuk dalam karya-karyanya, akan memberikan arti baru kepada hidup dan oleh karena itu lebih menghasilkan energi hidup, lebih menguntungkan bagi hidup, dan lebih menggembirakan dalam hidup yang manusiawi dengan mengangkat hasrat manusia akan keadilan, kemerdekaan, kebebasan, kebenaran, dan kebahagiaan. Dalam bahasa iklannya: bikin hidup lebih hidup!

2 komentar: